Aku rasa semua orang dah tau kot yang aku senang jatuh cinta dengan apa-apa yang susunan ayat sedap, pilihan perkataan bukan sekadar pelengkap, rima kena, jeda tak main bubuh je, semua tu lah. yang manis bergula, memang aku suka. baca je, kalau bab makan aku gemar yang pedas ye *kekenyit mata (lol)
aku suka baca karya Tia Setiawati Priatna. makin baca makin jatuh cinta, nak baca lagi dan lagi, tak kisah berulang kali. mungkin sebab cari ketenangan dalam kata-kata, siapa yang sefahaman serasa, bait-bait yang benam ke jiwa... ceh. atau mungkin memang sebab aku suka membaca. lol.
bak kata Tia;
“Bacalah sekali, mungkin kau akan bergidik geli. Kali ke dua mungkin kau mampu merasa. Kali ke tiga, mungkin akan ada air menetes dari mata. Membaca sebuah karya; sungguh tak pernah cukup dilakukan satu kali saja.”
bila tak faham, memang rasa geli. bila faham, baru dapat rasa. bila rasa, menitis air mata.
perghhh.
bak kata Tia lagi;
“Segala sesuatu yang tak kau rasa, tak akan mampu kau nilai dengan tepat kadarnya.”
“Tidak ada yang benar-benar tahu, sampai kita mengalaminya langsung; sendiri. Termasuk juga tentang cinta, yang dulu kau anggap dangkal adanya. Menilai dari luar, memang berbeda dengan merasakannya sendiri; dari dalam.”
Tia ni baru kahwin, yeay! aku hepi untuk dia sebab aku dah setahun dua jugak ikut karya dia, dan aku tahu karya dia pasal siapa, suka, duka, bahagia, sedih dia pasal siapa. dan sekarang, Tia dah selamat jadi isteri Purnama. Tia juga pernah tunggu, Tia juga pernah sabar, kini akhirnya dia milik lelaki itu :')
Tia tulis pasal hidup, manusia, tuhan, tapi paling banyak pasal cinta. kalau rasa taknak kena diabetes, silalah angkat jari sebab semuanya bukan je puitis, tapi sangaaaaat manis. nanti dah kudung kau salahkan aku pulak.
kudung kaki ke, kudung hati?
awwwww.
ok ni koleksi karya Tia yang aku suka.
selamat memaniskan diri! :3
---------------------------------------------------
“Aku cinta kamu. Walau bibirku tak pernah membuka kata untuk itu. Walau lakuku selalu bersembunyi karena malu. Namun ya, aku cinta kamu.”
“Sepandai apapun kau menyembunyikan isi hatimu, terkadang mata yang menatap dengan rasa, tak akan mampu menyembunyikan cinta. Coba saja.”
“Tuhan itu Maha Adil. Kata siapa sakitmu akan selamanya? Akan datang waktunya kau bahagia, dan tiba-tiba kau lupa; kau sempat begitu terluka.”
“Dahulu, ada yang menitip pesan ini pada seorang sahabat, ‘jaga dia baik-baik, aku tak bisa lagi menjaganya’. Semoga kamu tak pernah berkata begitu.”
“Dahulu, ada yang menitip pesan ini pada seorang sahabat, ‘jaga dia baik-baik, aku tak bisa lagi menjaganya’. Semoga kamu tak pernah berkata begitu.”
ingatkan aku, wahai Tuhan, bahwa kasihMu adalah lebih dari segala kesempitan, bahwa karuniaMu selalu dapat kurasakan, bahwa Engkau tak pernah letih untuk memelukku saat aku membutuhkan, bahwa aku selalu dapat meminta segala yang aku inginkan
ingatkan aku, wahai Tuhan, bahwa hidup bukanlah suatu keabadian, bahwa bekalku belumlah cukup untuk kubanggakan, bahwa ada yang lebih mengenaskan dari sekedar mengasihani kehidupan, bahwa cinta bukanlah akhir dari suatu permulaan
ingatkan aku, wahai Tuhan, bahwa sesungguhnya Kau selalu mendengarkan, saat sepertiga malam menjelang atau saat lima waktu berkumandang, bahwa tak ada yang perlu kukhawatirkan, saat kurasa tak ada yang mengerti segala kesusahan karena aku memiliki Engkau untuk kuandalkan"
“Ketika nanti bertemu kamu, jodohku, semoga saat itu aku sudah berhenti mencari, bukan lagi berlari dengan kecepatan tinggi. Karena saat itu, kita telah saling menemukan. Maka jangan lagi mencari yang bukan jodoh dari Tuhan.”
"Beberapa wanita lebih suka menunggu walau hal itu penuh dengan ketidakpastian, daripada memulai lebih dulu dan malah dianggap berlebihan."
“Perlahankan langkahmu, tak perlu terburu-buru. Sebab waktu yang telah ditentukan Tuhan, tak akan pernah baik jika kau percepat sendirian.”
“Perlahankan langkahmu, tak perlu terburu-buru. Sebab waktu yang telah ditentukan Tuhan, tak akan pernah baik jika kau percepat sendirian.”
“Bahagia itu sederhana, saat kau merasa cukup dan bersyukur dengan semua yang kau punya.”
“Memang, sebaik apapun manusia, ia tak mungkin makhluk yang tanpa dosa. Jangan bangga. Dan lagipula, malaikat tidak menetap di dunia.”
“I love you without reason and that is reason enough.”
“If you don’t try, you don’t care. My mind thinks of it as simple as that.”
"Rindu itu seru, terkadang kau harus melawan egomu, untuk menghubunginya terlebih dulu. Lalu cinta, kurasa cinta itu candu. Kau mampu merindunya, setelah sepuluh menit yang lalu bertatap muka. Pada akhirnya, kurasa aku tak akan mampu mencintamu, tanpa merindu terlebih dahulu."
“Aku begitu suka menerima dan membaca surat cinta. Sayangnya, cintamu tak pandai berkata-kata.”
“Jatuh cinta ya jatuh cinta saja. Tentang takdir Tuhan untuk selalu bersama, itu lain persoalannya.”
“Jika bukan dengan mengingatmu, lalu bagaimana caraku mengabadikanmu dalam hidupku? Karena dengan mengingatmu, aku akan senantiasa mendoakan kebaikanmu.”
“Diam adalah caraku, menahan rinduku dalam-dalam”
“Kamu tampak biasa saja. Cintalah yang membuatmu begitu istimewa.”
“Iya, ada alasan mengapa Tuhan menciptakan mulut di depan; salah satunya mungkin supaya kita tidak bicara di belakang.”
“Mereka yang menganggap remeh cinta, mungkin hanya belum merasakan kekuatannya langsung pada diri mereka.”
“Saya ingin berlibur dari merindukan kamu. Namun nyatanya, saya hanya berlibur dari pura-pura tak merindumu.”
“Sometimes, you don’t need people to tell you how good or bad your work is. When you make it with a heart, you do good. Keep that in mind.”
“Seorang wanita pernah mempertanyakan cinta. Lalu kamu ada.”
“Some questions are better left unanswered. Because at one time, you have to choose between your heart and your curiosity.”
“Bibirku tertutup, sengaja berdiam diri, sepi. Sementara isi hati berteriak, merindumu mampu membuatnya begitu serak.”
"Menulis puisi untukmu, Sayang. Adalah serupa rasa cinta yang enggan begitu saja kusia-siakan. Dan kesedihan terkadang perlu untuk dirayakan."
“Kepada wanita, tak perlu banyak bertanya pada pria, tentang apakah dia mencintamu atau tidak. Jika ia mencintamu, ia yang akan lebih dulu mengucapkannya.”
"Aku sedang sibuk menggenggam rindu, untuk kuserahkan padamu; : nanti, kapanpun kau setuju."
“Mintalah perhatian Tuhan dalam keadaan apapun. Sehingga ketika kau sedang susah, kau tak merasa Dia tak ada.”
“Aku mau tahu, sebesar dan seperti apa rindumu? Sampai kau tahan tidak menghubungiku.”
"Aku wanita biasa saja, kau pria sederhana. Tuhan bilang, kita akan sempurna jika bersama."
“Mari berpura-pura tak saling merindu, adakah sesak begitu hebat, kau rasa di dadamu?”
“Ketika menulis sesuatu, apapun itu, kau tak perlu malu pada kejujuranmu. Karena ia istimewa, dan tak banyak yg mampu (dan mau) melakukannya.”
“Rasa yg begitu mendalam tak akan mudah begitu saja hilang karena waktu, jarak, bahkan perpisahan. Namun segalanya mungkin, atas izin Tuhan.”
“Atas hal-hal yang tak mampu diterima akal, gunakan hatimu sesekali.”
“Semestinya aku tahu, ketika kucintai kau dengan diam-diam, aku harus siap merasa nyeri tanpa mampu memperlihatkan kesakitan.”
“Ketika kita saling mendoakan karena saling merindukan, semesta pasti turut tersenyum menyaksikan.”
“Berniat melupakanmu itu urusan mudah. Benar-benar menjalankannya, itu persoalan yang berbeda.”
“Ada aku yang malu-malu mengaku merindumu. Ada kamu yang diam-diam juga merinduku. Kurasa kita dipermainkan rasa malu.”
“Mari terlelap bersama. Agar nanti kita dapat berjumpa di tempat biasa; dalam masing-masing mimpi kita. Bagaimana?”
“Tak ada sunyi yang lebih syahdu, melebihi semua puisi-puisi rindu.”
“Jika aku jatuh padamu dengan tanpa tergesa-gesa, apakah kau akan lebih siap menangkapku dengan segera?”
“Diam-diam mencinta, itu tidak lebih baik daripada diam-diam mendoakan.”
“Jika pinta dan harapku terlalu berlebihan, tolong ingatkan aku pelan-pelan, Tuhan.”
"Saat kau tahu bahwa jalan menujuku adalah tak mudah, kumohon berjuanglah terus tanpa kenal lelah."
“Jika pinta dan harapku terlalu berlebihan, tolong ingatkan aku pelan-pelan, Tuhan.”
"Saat kau tahu bahwa jalan menujuku adalah tak mudah, kumohon berjuanglah terus tanpa kenal lelah."
“Tuhan, izinkan aku jatuh cinta lagi pada orang yang tepat, di waktu yang tepat. Karena hatiku cuma satu, aku ingin sakitnya tak terlalu.”
“Kita, bukan sedang saling melupakan. Kita, hanya memberi kesempatan pada jalan kesepian, untuk saling percaya dan mendoakan.”
“Saling mendoakan, mungkin adalah kerinduan yang pernah diajarkan Tuhan.”
“Kita sama-sama sedang menuju masa depan. Semoga saja, kita benar-benar bertemu di satu jalan; kepercayaan pada takdir Tuhan.”
“Cinta akan mengajakmu dalam percakapan dua arah. Dan kau tahu, kita selalu butuh pihak ketiga; Tuhan, yang melancarkan segala jalan.”
“Aku kuat? Itu kan yang kamu lihat. Ah bukan, maksudku yang aku izinkan untuk kamu lihat. Kalau mau tahu, tanya aku atau Tuhan saja.”
“Beri aku waktu sebentar saja untuk bermimpi. Aku ingin menemuimu sekali lagi.”
“Hati mungkin memang tak dapat berbohong, namun hati juga bisa salah. Hanya Tuhan, sumber dari semua kebenaran.”
“Waktu yang dibuat manusia, lebih sering tergesa-gesa. Waktu yang digariskan Tuhan untuk semuanya, selalu sempurna.”
“Mungkin saja kita sama-sama rindu, namun kita tak pernah sama-sama mengaku. Terlalu!”
"Ketika dia yang menurut mereka sangat biasa, namun dimatamu terlihat sangat istimewa, mungkin kamu sedang jatuh cinta."
“Aku berlari, berlari, sampai aku yakin kau tak akan menghampiri lagi. Namun percuma saja, kau ada dan hidup dalam hati dan kepala. Percuma.”
“Bahkan ketika kau dan dia sama-sama mencintai, perihal kehilangan masih saja mampu menghantui. Santai saja, kita ini manusia biasa.”
“Jangan mempersulit hidup dan hatimu, dengan selalu mempertanyakan segala sesuatu yang seharusnya hanya bisa diterima.”
"Walaupun saat ini kita melangkah ke arah yg tak sama, kita tak akan pernah tahu, barangkali di masa depan nanti : kita akan bersatu kembali."
"Betapapun melegakannya bagimu untuk mencintai seseorang tanpa ia tahu, bagiku tetap; mencintai diam-diam adalah perih yang mendalam."
“Salah satu hal hebat adalah melakukan kebaikan saat orang lain tidak melihat. Hanya Tuhan yang sesungguhnya Maha Melihat”
“Allah Maha Besar. Masalah besarku maha kecil.”
"Pada waktunya nanti, mereka yang memang bukan jodoh akhirmu, hanya akan tinggal sebagai kenangan. Tak akan lebih. Jadi tak perlu berlebihan."
"Mungkin saja, malam mampu begitu syahdu, karena banyak doa yang diucapkan oleh para perindu. Mereka bilang, ‘Semoga dia selamat dan bahagia’. Dan tentu, akan ada namamu juga disebutkan, oleh dia yang merindumu dengan keterlaluan."
“Menyempatkan diri setiap saat mendoakan dia? Ah, kau pasti sedang jatuh cinta.”
“Dalam doa atas cinta yang begitu luar biasa, kuharap kau baik-baik saja di sana.”
“Tak ada doa yang sia-sia, bahkan ketika dia yang kau doakan tak pernah mengetahuinya.”
“Cinta adalah air mata, saat rindu hanya mampu menjadi doa-doa.”
“Karena terkadang cinta mampu melemahkan, jangan pernah sekalipun kau meninggalkan Tuhan.”
"Doa untukmu telah berkali-kali rebah pada sujud malamku. Semoga Tuhan menjaga cinta kita, dari semua hal-hal yang salah."
“Waktu; mampu membuktikan begitu banyak hal. Seperti cinta, dan juga keadilan Tuhan.”
dah diabetes dah? dah kudung hati? kalau sanggup bermanis sampai bersemut nanti, bacala lagi hehe >
Tentang betapa aku terlalu sering merindukanmu. Tentang betapa aku begitu mengkhawatirkan keadaanmu. Tentang betapa sapa darimu adalah yang kunanti-nanti setiap harinya. Tentang betapa dahulu jarak begitu menjadi masalah buatku, dan sekarang ia telah mampu menjadi teman dekatku karena kamu. Tentang betapa aku begitu tak ingin bangun dari tidurku, saat memimpikanmu. Sampai sebuah hal ini,
: tentang betapa kau mampu begitu menyebalkan bagiku.
Jadi, harus darimana cerita ini kumulai, Tuan?
Tuan, sadarkah kau bahwa sering kali kau membuatku menangis tak tahu tempat? Sehingga aku harus sibuk bersembunyi, agar air mata tak nampak di mata mereka yang mungkin akan menghakimi.
Tuan, apakah kau tahu rasanya menunggu waktu bertemu denganmu? Sesaat terasa lama, dan lama terasa seperti selamanya. Dulu kurasa, menunggu tidak akan semenyeramkan itu.
Tuan, ingatkah kau bahwa ketika kita memutuskan untuk tak saling bicara, kita masih saling memberikan perhatian? Kita tak pernah menyebutkan nama dalam kalimat-kalimat di media sosial, namun kita selalu tahu, kau dan aku sama-sama menyelipkan berbagai doa kebaikan.
Kau perlu tahu sebuah kebenaran, Tuan. Puisi-puisiku tak akan setara dengan doa-doa yang setiap saat kuucap pada Sang Pencipta. Doaku sederhana.
: Aku hanya ingin kau bahagia.
Jika itu memang denganku, itulah kebahagiaan terbesar bagiku. Bila bukan, tak mengapa. Toh bahagiamu, juga tetap menjadi bahagiaku. Walau mungkin ada secuil rasa nyeri, karena aku tak mampu membayangkan, ada wanita lain yang mampu membuatmu merasakan cinta sebesar cinta yang telah kuberikan.
Lalu Tuan, apakah masih menempel di ingatanmu bahwa kita sama-sama pernah berniat mencari pengganti? Dengan asumsi masing-masing dari kita sudah bahagia bersama yang lainnya? Untunglah kenyataan berkata ‘tidak’. Kau dan aku, kita sama-sama tersentak. Namun aku tahu, jawaban selalu diberikan Tuhan pada mereka yang bersungguh-sungguh melakukan perjalanan pencarian.
Tahukah kau, Tuan? Bahwa kau seringkali menjadi pria yang sangat menyebalkan?
Kau terlalu sering tak tahu harus berkata apa, di saat aku sedang berduka. Kau harus tahu, terkadang aku tak ingin sebuah solusi. Aku hanya ingin kau ada dan tak kemana-mana. Seperti yang biasa kulakukan, saat kau sedang membutuhkan seseorang.
Kau pun sering menghakimi, maka tak jarang aku hanya akan berdiam diri. Cukup lah kurasa, kegalauan yang kurasakan sendiri.
Kau sering tak sadar, bahwa semua keceriaanku adalah untuk mencerahkan harimu. Dan kebisuanku, semata adalah ketidakberdayaanku untuk berkata, ‘aku tak ingin kau merasakan kesusahan yang sama’.
Kau selalu saja mempermasalahkan segala rasa khawatirku atasmu. Seandainya saja, ya seandainya saja kau merasanya juga. Kurasa kau tak ingin, merasanya sampai dua kali.
Kau, Tuan. Kau lelaki yang kucintai berkali-kali. Kau lelaki yang kubuatkan ratusan puisi. Kau lelaki yang terlalu sering menyebalkan hati. Kau tak pernah tahu, dan tak pernah mau kuberi tahu.
Tahukan kau, Tuan. Terkadang ketika kita merasa sudah tahu segalanya, saat itulah kita merupakan orang yang sama sekali tak tahu apa-apa.
Maka kukatakan sekali lagi. Biarkan aku bercerita padamu tentang banyak hal. Aku ingin kau tahu tentang banyak hal,
: termasuk tentang bagaimana kau mampu begitu menyebalkan. "
"Tahukah kau, Tuan. Rasanya seperti ada semburat merah melayang-layang di dinding kamarku. Seperti sebuah kesedihan yang berniat datang lagi, karena telah diundang dengan murah hati.
Maka, inilah yang harus kau baca dengan seksama :
Katakanlah, aku tak mencintaimu sebesar itu. Lalu mengapa aku selalu mampu kembali walau berkali-kali telah kau lukai?
Katakanlah, aku tak mencintaimu sebesar itu. Lalu mengapa setiap saat yang kuingat adalah kamu? Bahkan segala kesibukan pun belum mampu, mengenyahkan pikiranku dari mengkhawatirkan keselamatanmu.
Katakanlah, aku tak mencintaimu sebesar itu. Lalu, sudahkah kau membaca semua puisi-puisi cinta dalam bukuku? Lalu tanyakan sendiri pada dirimu, siapakah dia yang selalu menjadi inspirasiku. Siapakah dia, Tuan?
Katakanlah, aku tak mencintaimu sebesar itu. Lalu cinta sebesar apa yang kau lihat dari sikapku? Karena aku tahu, doaku atas kebahagiaanmu tak pernah disampaikan seisi ruang ibadahku padamu.
Katakanlah, aku tak mencintaimu sebesar itu. Katakanlah lagi, lalu lagi, sampai berkali-kali. Dan akan kumaafkan kau lagi, seperti yang sudah-sudah, seperti yang telah kau ketahui.
Tuhan Maha Tahu, aku mencintaimu sebesar itu. Dan mungkin hanya Dia, yang mampu dengan sempurna membuatmu berhenti bertanya-tanya.
Wanita ini sungguh mencintaimu sebesar itu. "
“Aku tak pernah meminta seorang pendamping yang begitu sempurna. Cukup lah ia seperti kamu, yang ditetapkan tuhan sebagai jodohku.”
“Menulislah. Dunia perlu tahu isi kepalamu. Dan barangkali, juga cerita hidupmu serta orang-orang yang kamu sayangi.”
“Cintaku barangkali sempat berkurang, namun ia tak pernah menghilang. Maka cintai aku dengan benar, karena kutahu; kita masih sama-sama belajar.”
“Harapan itu serupa kekuatan untuk bertahan. Namun menerima kenyataan juga kekuatan; untuk melangkah maju ke depan dan meninggalkan yang di belakang.”
“Segala macam ingatan tentangmu adalah segala hal baik yang pasti mengekal dalam kepalaku. Maka aku ingin begini saja, tak ingin amnesia.”
“Mungkin ada kalanya aku akan berpura-pura sejenak saja melupamu, untuk sekedar menjaga hati dari rindu yang terlalu.”
"Bicaralah pada Tuhan, sebut namaku pelan-pelan. Kurasa rindu seperti itu, yang akan malaikat dan semesta aminkan."
“When I miss you a lot and I don’t know what to do, I just pray for you. There’s a hope that I sent to God, for taking a good care of you.”
“Betapa cinta tak pernah sia-sia. Walau pada akhirnya, pasti akan ada mereka yang ditakdirkan tidak untuk bersama.”
“Tuhan tidak pernah tidur saat kamu berbuat jahat. Maka ketika kamu mendapatkan balasanNya, itupun bukan berarti Dia baru membuka mata.”
“Anggaplah dahulu aku tak mengenal arti cinta. Maka ketika kamu ada, kurasa Tuhan sedang mencoba mengenalkannya.”
“Jangan pernah sekalipun berpikir bahwa kebaikan-kebaikan yang kau lakukan akan sia-sia. Tuhan tidak tuli apalagi buta.”
“When you won’t admit that you miss someone, the feeling will probably get bigger. Admit it. — Yes, I miss you.”
“There are so many idiots out there. Save your energy.”
“Ketika kau selalu mampu bersyukur, kau adalah makhluk Tuhan yang beruntung. Berbahagialah!”
“Saya tahu, buku adalah benda mati. Namun meluangkan waktu dengan benda mati yang mampu menghidupkan, jauh lebih baik daripada meluangkan waktu dengan makhluk hidup yang mematikan.”
“Jangan sombong. Karena walaupun kamu menjadi seorang yang hebat, kamu bukan yang terhebat. Tuhan bisa ambil apapun, kapanpun, darimu.”
“Terkadang, bicara panjang kali lebar dengan orang yang tak sepaham denganmu adalah seperti meminta seseorang yang buta huruf untuk menamatkan sebuah buku.”
“Jika bukan dengan mendoakanmu, lalu bagaimana lagi cara terbaik untuk merindumu dengan terlalu?”
“Sudah saling merindukan, sudah saling mencintai. Karunia dan kasih Tuhan mana lagi yang kau dustai?”
“Aku bukan menuliskan ini untuk menghakimi, aku hanya sekedar mengingatkan; untuk setiap perbuatan jahat yang kau lakukan, sungguh Tuhan tidak pernah (pura-pura) diam.”
“Sayangnya rindu dan sayang tidak bisa memilih. Kita bisa saja rindu atau sayang kepada orang yang tidak rindu dan tidak sayang kita.”
“Walau tak berniat untuk menerima, tetaplah hargai seseorang yang sudah menyatakan cinta. Kau tahu, bagi beberapa orang, hal itu tidaklah mudah.”
“Ada banyak alasan untuk tidak mudah percaya sama (semua) orang. Tapi tidak ada alasan untuk tidak percaya Tuhan.”
“Sayangnya rindu dan sayang tidak bisa memilih. Kita bisa saja rindu atau sayang kepada orang yang tidak rindu dan tidak sayang kita.”
“Walau tak berniat untuk menerima, tetaplah hargai seseorang yang sudah menyatakan cinta. Kau tahu, bagi beberapa orang, hal itu tidaklah mudah.”
“Ada banyak alasan untuk tidak mudah percaya sama (semua) orang. Tapi tidak ada alasan untuk tidak percaya Tuhan.”
“Pilihlah seorang pasangan hidup yang ketika bersamanya kamu tak perlu bersusah payah menjadi seorang sempurna yang bukan kamu.”
“Doa adalah isyarat cinta paling kuat yang tak perlu banyak syarat.”
“Aku tak tahu ada apa dengan hatimu. Namun ketika nanti kau lelah mencintaiku, beristirahatlah, dan jangan malah menyerah.”
“Kalau sedang bersedih karena tertimpa musibah, jangan lupa bahwa kau pernah dan akan bahagia. Jadi, jangan pernah mengutuk Tuhan ya.”
“Jangan sampai kita saling melupakan. Karena dengan saling mengingat, kita akan berbagi kebaikan; dengan sama-sama mendoakan.”
“Jangan sampai kita saling melupakan. Karena dengan saling mengingat, kita akan berbagi kebaikan; dengan sama-sama mendoakan.”
“Hatiku sudah menjadi milikmu. Maka tak perlu khawatir saat raga ini ke mana-mana, berusaha berproses mencapai mimpi-mimpinya.”
“Jika kamu bilang menemukan itu soal waktu, maka ditemukan adalah soal takdir Tuhan.”
“Ada saatnya nanti ketika aku telah mampu melupamu sampai ke dalam hati. Namun saat itu, tak perlu sampai kupaksa dengan terlalu.”
“Kulihat seseorang repot sekali mengambil rezeki orang. Tak percayakah dia, bahwa rezeki masing-masing kita sudah diaturNya? Atau bahkan dia tidak percaya Tuhan itu ada?”
“Mencintai dalam hati saja, terkadang bukan tentang kesabaran. Itu tentang ketakutan, karena rasa yang begitu besar tak siap untuk dijatuhkan.”
“People can be so cruel. But that doesn’t mean you’re free to judge them. Once you’re in their position, you’ll hate someone for judging you.”
“Selain kata-kata yg terucapkan, kesalahpahaman juga bisa terjadi karena kata-kata yang tidak diucapkan.”
“Seseorang masih penting bagi kita, ketika kita masih berusaha mencari-cari kabarnya; walau dengan cara sembunyi-sembunyi.”
“Sesuatu yang tidak ditunjukkan Tuhan padamu, mungkin memang tidak seharusnya kau lihat atau kau ketahui. Jangan memaksakan diri.”
“Life is hard. It’s even harder when you can’t accept things that you can’t change.”
"If I am pressed to say why I loved him, I feel it can only be explained by replying : “Because it was he; because it was me.”
"Cinta sejati, bukankah terkadang adalah tentang kesabaran menunggu?"
“Kepada perempuan, kalian seharusnya santai saja ketika ada yang mengatakan bahwa kalian sedang terlalu jual mahal. Bermasalahlah ketika ada yang mengatakan kalian sudah sebaliknya. Karena yang berharga dan baik nilainya, sudah sewajarnya tidak ‘dijual murah’.”
“Memperhatikan (dengan tulus) seseorang yang kau sayang tak melelahkan. Memangnya kamu sedang berlari? Mungkin, harapmu yang terlalu tinggi yang membuatmu lelah tak terperi.”
“Terkadang kita perlu menarik diri, untuk akhirnya ditemukan kembali.”
"Mencintai diam-diam itu seperti menggenggam sebuah bom waktu. Akan ada waktunya melepaskan bom itu. Atau memutuskan untuk terus menggenggamnya, sampai ia meledak dan membiarkan kabar hatimu tak terdengar.
Aku mencintaimu secara diam-diam. Tentu, seperti inilah definisi diam-diam bagiku :
Kau tak pernah tahu. Dan aku hanyalah serupa manusia bisu. Keberanian mungkin adalah hal yang paling jauh berada dari ragaku.
Maka mulai seterusnya, aku hanya akan tersenyum saja.
Aku akan tersenyum saja, saat kau bercerita kau telah bertemu wanita yang manis parasnya.
Aku akan tersenyum saja, saat kau bercerita kau telah jatuh cinta pada pandangan yang pertama.
Aku akan tersenyum saja, saat kau berbahagia karena cintamu telah resmi dia terima.
Aku akan tersenyum saja, saat kau berkata pipi wanitamu merona saat kau menggenggam tangannya.
Aku akan tersenyum saja, ketika matamu masih mampu menangkap gerak lambat di bibirku, saat kau sibuk bercerita ini dan itu.
Namun ketika aku berbalik badan, tak akan mampu lagi kau perhatikan, air mata yang berurai di pipiku pelan-pelan.
Maka aku akan tersenyum saja. Seandainya esok hari, kau menanyakan alasan mengapa kemarin aku terburu-buru pergi."
Aku mencintaimu secara diam-diam. Tentu, seperti inilah definisi diam-diam bagiku :
Kau tak pernah tahu. Dan aku hanyalah serupa manusia bisu. Keberanian mungkin adalah hal yang paling jauh berada dari ragaku.
Maka mulai seterusnya, aku hanya akan tersenyum saja.
Aku akan tersenyum saja, saat kau bercerita kau telah bertemu wanita yang manis parasnya.
Aku akan tersenyum saja, saat kau bercerita kau telah jatuh cinta pada pandangan yang pertama.
Aku akan tersenyum saja, saat kau berbahagia karena cintamu telah resmi dia terima.
Aku akan tersenyum saja, saat kau berkata pipi wanitamu merona saat kau menggenggam tangannya.
Aku akan tersenyum saja, ketika matamu masih mampu menangkap gerak lambat di bibirku, saat kau sibuk bercerita ini dan itu.
Namun ketika aku berbalik badan, tak akan mampu lagi kau perhatikan, air mata yang berurai di pipiku pelan-pelan.
Maka aku akan tersenyum saja. Seandainya esok hari, kau menanyakan alasan mengapa kemarin aku terburu-buru pergi."
“Pemilik semua hati sebenarnya adalah Tuhan, Sang Maha Segala. Maka bukankah seharusnya kita lebih memohon padaNya, untuk menjaga masing-masing hati kita?”
“Semoga kita tidak selalu perlu melihat kekurangan yang lain, untuk senantiasa mampu bersyukur. Semoga.”
“Terkadang aku tak ingin merindumu dalam diam. Karena dengan berteriak saja, itu tak mampu meringankan.”
“Cinta mampu menjadi alasan kuat untuk bertahan. Dan ia pun mampu menjadi alasan yang tak terelakkan, untuk meninggalkan.”
“Cinta bukanlah menjawab pertanyaan ‘siapa yang lebih baik?’. Tapi, ‘kepada siapa hatimu dengan yakin berkata ‘ya’?’”
“Mencintaimu, Tuan. Sama sekali tak pernah kuniatkan. Namun ketika pada akhirnya aku jatuh padamu, aku tahu Tuhan tak pernah bermain dadu.”
"Aku tak pernah meniatkan diriku, untuk jatuh hati padamu, untuk mengenal cinta melalui kamu
Entah bagaimana, takdir Tuhan sampai padaku, aku mencoba mengenalnya, dengan terjatuh terlebih dahulu
Aku jatuh, lalu semakin jatuh
Kau tahu, diantara sekian banyak alasan atau pembenaran atau apapun yang biasa kau sebut ketidaksengajaan, sepertinya aku memilih untuk jatuh semakin dalam, mencoba bangkit untuk jatuh lagi
Jika hidup adalah tentang pilihan, mencintamu adalah pilihan yang tak pernah aku pastikan tak pernah pasti kapan selesai tak tahu akan sampai kapan."
"Aku tak pernah meniatkan diriku, untuk jatuh hati padamu, untuk mengenal cinta melalui kamu
Entah bagaimana, takdir Tuhan sampai padaku, aku mencoba mengenalnya, dengan terjatuh terlebih dahulu
Aku jatuh, lalu semakin jatuh
Kau tahu, diantara sekian banyak alasan atau pembenaran atau apapun yang biasa kau sebut ketidaksengajaan, sepertinya aku memilih untuk jatuh semakin dalam, mencoba bangkit untuk jatuh lagi
Jika hidup adalah tentang pilihan, mencintamu adalah pilihan yang tak pernah aku pastikan tak pernah pasti kapan selesai tak tahu akan sampai kapan."
“Tak menghubungi bukan berarti tak mengingat. Hal itu bisa saja hanya diganti dengan mendoakan, yang tidak pernah kamu tahu waktunya kapan.”
“Karena esok aku tak ingin menjadi yang terlupakan, maka aku mengumpulkan ingatan dan kubuat ratusan puisi kenangan.”
“Pesta Pernikahan dan Acara Pemakaman, sama-sama mengingatkan kita akan sesuatu, seperti alarm pribadi yang berbunyi; ‘kapan giliran saya?’”
“How to love your parents more? Try to see their face while they’re sleeping, with a tired face. Hope it gives you a perfect moment.”
“What you’ve heard about someone from others isn’t always true. Wait until you know him/her by yourself, then take time to know better.”
“When a close friend becomes stranger, maybe that’s better than a best friend becomes enemy.”
“Kabari aku jika sosokku muncul dalam mimpimu. Sengaja atau tak kau sengaja, biarkan aku tahu kau juga merinduku.”
“Sebaiknya jika belum menjadi baik, tak perlu menghakimi mereka yang berbuat baik. Yang jahat dicaci, yang baik kok dicurigai. Maumu apa?”
sepasang mata yang menatap dalam rindu, adalah cinta yang diam-diam berbisik untuk setia pada satu kamu.
sebelum rinduku hilang ditelan waktu, izinkanlah malam-malammu terisikan doa-doaku.
jarakku dan jarakmu, sedang menuju ke suatu tempat yang syahdu melipat ratusan rindu menjadi bulir-bulir cinta berayat satu.
Aku sangat ingin percaya, bahwa kamu memang ditakdirkan : Untukku saja"
“Aku mungkin tidak selalu ada di sampingmu, namun aku tidak pernah beranjak ke mana-mana sejauh ego memanggilku.”
“Tidak bertanya bukan berarti tidak lagi peduli. Ada beberapa orang yang lebih nyaman mengetahui sendiri, hanya dengan dari jauh mengamati.”
"Andaikan waktu berpihak pada cintaku, entah nanti, entah berapa lama lagi. Tahukah kau apa yang sangat ingin kukatakan, sayang? Tahukah kau bagaimana rasanya mencinta seseorang selama ini? Tahukah kau bagaimana rasanya mendoakan dia yang kau cinta, Tanpa kenal waktu, tanpa tahu apakah dia tahu? Tahukah kau bagaimana rasanya, saat dia yang kau cinta, hanya berjarak satumeter di depanmu? Satu meter, sungguh hanya satu meter, namun kau hanyalah seorang teman biasa, teman biasa saja
Tahukah kau seperti apa rasanya, mencintai diam-diam? Kau ingin bersuara, namun bahagianya adalah bahagiamu juga. Kau ingin sedikit saja membuatnya tertawa, namun waktu selalu lebih dulu membuat seseorang lebih dekat kepadanya Kau ingin mengenal hatinya, namun hatimu sendiri berkata ‘ini bukan saatnya’
Aku ingin, sungguh ingin, mencintamu dengan kepolosan seorang anak kecil, Tak bisa diam, berkata apa adanya tanpa ada yang disembunyikan, Aku ingin, lebih dari sekedar ingin, kau mendengarkanku sebagai orang lain. Sebagai seorang pecintamu, pecintamu yang luar biasa mengagumimu
Karena kau sungguh tak pernah tahu, bagaimana rasanya menjadi seorang aku. Seorang yang mencintaimu secara diam-diam,
: Dan itu mampu membuat cintanya begitu dalam"
Tahukah kau seperti apa rasanya, mencintai diam-diam? Kau ingin bersuara, namun bahagianya adalah bahagiamu juga. Kau ingin sedikit saja membuatnya tertawa, namun waktu selalu lebih dulu membuat seseorang lebih dekat kepadanya Kau ingin mengenal hatinya, namun hatimu sendiri berkata ‘ini bukan saatnya’
Aku ingin, sungguh ingin, mencintamu dengan kepolosan seorang anak kecil, Tak bisa diam, berkata apa adanya tanpa ada yang disembunyikan, Aku ingin, lebih dari sekedar ingin, kau mendengarkanku sebagai orang lain. Sebagai seorang pecintamu, pecintamu yang luar biasa mengagumimu
Karena kau sungguh tak pernah tahu, bagaimana rasanya menjadi seorang aku. Seorang yang mencintaimu secara diam-diam,
: Dan itu mampu membuat cintanya begitu dalam"
"Sudah kukatakan jangan jatuh hati kepadaku. Namun kau tidak mendengarkan.
Katamu, ‘Aku sedang tuli. Kau tidak perlu repot menggurui.’
Sudah kukatakan jangan jatuh ke lubang yang sama berkali-kali. Namun kau tidak juga belajar dari kesalahan.
Katamu, ‘Aku manusia biasa. Hatiku tidak mampu kukendalikan.’
Sudah kukatakan jangan berlari. Namun kau malah berlari lebih kencang lagi.
Katamu, ‘Seharusnya, yang menang adalah yang tiba paling pertama.’
Sudah kukatakan aku tidak cinta. Namun kau malah terus menerus berusaha.
Kataku, ‘cinta tidak mampu kau paksa ataupun kau tebak kehadirannya.’"
Katamu, ‘Aku sedang tuli. Kau tidak perlu repot menggurui.’
Sudah kukatakan jangan jatuh ke lubang yang sama berkali-kali. Namun kau tidak juga belajar dari kesalahan.
Katamu, ‘Aku manusia biasa. Hatiku tidak mampu kukendalikan.’
Sudah kukatakan jangan berlari. Namun kau malah berlari lebih kencang lagi.
Katamu, ‘Seharusnya, yang menang adalah yang tiba paling pertama.’
Sudah kukatakan aku tidak cinta. Namun kau malah terus menerus berusaha.
Kataku, ‘cinta tidak mampu kau paksa ataupun kau tebak kehadirannya.’"
“Tak ada usaha yang sia-sia. Karena jika kau sudah mati-matian berusaha namun tidak mendapat apa yang kau mau, kau akan sadar bahwa itu memang bukan untukmu. Karena jika saja tak pernah kau coba, kau akan menghabiskan hidupmu dalam tanda tanya.”
“Rindu yang terlalu mungkin akan membuatmu membenci jarak dan waktu. Namun ia akan mengajarkanmu sesuatu; kesabaran untuk menunggu.”
“Segala sesuatu (sebenarnya) hanyalah soal waktu.”
“Segala sesuatu (sebenarnya) hanyalah soal waktu.”
“Mengapa kita perlu saling menjauh? Karena kurasa kita tak akan mampu, untuk tetap saling dekat dan memaksa hati kita memasang sekat.”
“Aku terbiasa menulis hal-hal yang tak ingin aku lupakan begitu saja. Kamu, salah satunya.”
“Cinta dapat tumbuh walau dengan jarak. Dan dia dapat tidak tumbuh sama sekali walau dalam keadaan dekat.”
“Kamu, jangan suka membolak-balik perasaan orang lain. Memangnya kamu Tuhan?”
“Jika doa adalah caraku memelukmu dari jauh, maka memelukmu dari dekat adalah dengan melihatmu tersenyum tanpa terpisah jarak.”
“Jangan suka membalas perbuatan buruk orang lain. Karena kamu kan bukan Tuhan.”
“Cinta itu begitu dekat dengan kehilangan; yang selalu mampu mendekatkan kita kepada Tuhan.”
“Aku mencintaimu sampai merasa sakit. Merasa bahwa setelah itu, aku masih saja mampu bangkit. Lalu mencintaimu lagi, seperti pertama kali.”
“Dalam diam, aku tetap merindumu. Dalam kelam, ingatku masih membayangkan wajahmu.”
“Ketika kau mencintai seseorang dengan begitu hebat, kau tiba-tiba mampu menjadi manusia yang ‘kuat’.”
Aku memang terkadang melupaMu. Sering berjalan berkelok-kelok, sampai lupa tak pernah menengok.
Aku pun sering lupa, bahwa sejauh apapun kakiku melangkah, keduanya akan selalu menuju penciptanya.
: MenujuMu, tanpa perlu Kauperintah."
Mungkin itu memang hanya sebuah ‘halo’ atau ‘hai’, dan kuharap kau tahu ada rindu yg kucoba tuai Kau harus tahu, ada cinta yang sudah terlanjur kau tanam,
: walau kau lebih sering terdiam"
“Tidak ada yang ‘terlalu baik’ atau ‘terlalu buruk’ saat dua manusia saling mencintai. Karena kalian senantiasa akan saling melengkapi.”
“Untaian kata paling indah adalah doa-doa yang kau lantunkan, di sepertiga malam dalam sayup-sayup kegelapan.”
“Perlahan-lahan ada cinta yang akan mampu menghilang. Mungkin kau tak pernah tahu, ia sempat menunggumu mengajaknya pulang.”
“Mungkin akan lebih mudah melepaskanmu pergi. Namun yang termudah sekalipun terkadang menjadi sulit, jika berlawanan dengan kata hati.”
“Ada banyak cinta yang kukirim padamu di setiap waktu. Mereka bernama doa.”
“Bahagia adalah ketika kita mampu bersyukur. Itulah mengapa, lihatlah apa yang sudah kau miliki, bukan apa yang kau ingini dan belum kau miliki.”
“Walaupun kesabaran terkadang sering terasa memberatkan, namun keikhlasan adalah kekuatan.”
“Sesulit apapun keadaan kita, jika kau bertahan, kau adalah sosok luar biasa. Sungguh, luar biasa.”
“Berjauhan sekarang untuk saling berdekatan (sampai mampu saling mendekap) nanti; di waktu yang ditetapkan Tuhan.”
“Saat kata-kata kehilangan maknanya, yang tersisa adalah lantunan doa-doa pada Sang Pencipta; ‘jagalah selalu dia, di tempatnya berada’.”
“Beberapa hati mampu saling mengerti, bahkan ketika keduanya saling diam penuh arti.”
"Beberapa orang berani berkata ‘aku kangen kamu’. Yang lain mungkin akan menggantinya dengan ‘bisakah kita bertemu?’"
“Selamatkan aku dari rasa tak nyamannya hati atas kekhawatiran yang berlebihan. Kau mau tahu dengan cara apa? Berjanjilah padaku untuk menjaga dirimu (dan juga hatimu).”
“Sia-sia itu bukan saat kamu mencintai seseorang yang tak mencintaimu. Namun lebih ke saat kamu menunggu dia yang sudah memutuskan untuk memilih yang lain, selain dirimu.”
“Ketika kamu sudah bertekad untuk menunggu seseorang, pastikan ia bersedia ditunggu. Karena mengerjakan sesuatu yang sia-sia, itu sama sekali tidak indah”
“Kalau kamu tidak mampu setia pada satu orang saja, mungkin lebih baik kamu sendiri saja. Sendiri. Saja.”
“Kamu bilang kamu bodoh ketika jatuh cinta. Ah, menurut saya, kamu justru beruntung karena masih bisa merasanya.”
“Kamu hanya tak tampak di mata. Tapi di dalam sini, selalu ada doa kuucap dengan pelan dan sering tanpa kata; aku ingin kau selalu bahagia.”
“Hidup itu seperti kamera. Kalau tidak fokus, pasti kurang memuaskan hasilnya.”
“Salah satu bentuk penghargaan terhadap keadilan Tuhan adalah dgn tidak sirik terhadap rezeki orang lain. Ya ampun, rezeki itu tidak tertukar, sungguh.”
“Aku tahu, tidak ada jaminan bahwa ketika aku rindu kamu, kamu juga akan rindu aku. Tapi aku rasa, doaku tidak pernah salah alamat.”
“Selemah-lemahnya cinta adalah cinta diam-diam, yang walau tak pernah ditunjukkan namun tetap selalu mendoakan.”
“Tuhan itu Maha Dekat. Maka kita seharusnya malu, bila sering menjauh.”
“Bukan yang sempurna. Namun yang terbaik yang Tuhan pilihkan untuk saya.”
“Aku lebih suka mendoakanmu dalam diam. Lalu akan kusebut namamu, dengan mata yang terpejam.”
“Hanya karena seseorang tidak selalu mengutarakan semua hal tentang kamu, bukan berarti dia tidak memperhatikan kamu.”
“Semua hal yang pada akhirnya kau putuskan untuk kau lepaskan, barangkali memang adalah segala hal yang dari awal tak pernah layak untuk kau pertahankan.”
“Ada kalanya, merindumu dalam diam lebih aman untuk kulakukan. Tak perlu kutunggu kalimat ‘aku merindumu juga’ sebagai jawaban.”
“Urusan orang lain yang kamu campuri, barangkali memang bukan orang lain. Perhatian berlebihan, tak seharusnya diberikan pada orang lain, kan?”
"Mungkin tak semua hal membutuhkan alasan, seperti kerinduan. Datang begitu saja, tiba-tiba. Tanpa alasan, namun menyenangkan.
Kita tak pernah tahu alasan apa yang membuat kita saling merindukan?
Jarak? Sebelumnya kita tak pernah dipersatukan jarak.
Atau mungkin kita merindukan sebuah pertemuan?
Kita belum pernah bertemu sebelumnya.
Rindu itu menelusup tiba-tiba.
Kita tak saling memikirkan, namun saling merindukan.
Sebab kerinduan teramat jujur hingga tak mampu membuat alasan.
Alasan kerinduan adalah rindu itu sendiri."
“Saya bukan penyair, Tuan. Hanya seorang perempuan biasa, dengan kecintaan luar biasa besar; pada rasa yang berkata-kata.”
“Entah bagaimana saya tahu, di tengah kesibukanmu, kamu masih sempat mendoakan saya. Itu saja, sudah lebih dari cukup.”
“Barangkali kita akan saling menemukan kekurangan, namun cinta membuatnya menjadi sama sekali bukan persoalan.”
“Berbahagialah atas segala hal yang diberikan Tuhan, bukan atas apa-apa yang memang sudah kembali padaNya. Menghitung kehilangan sulit membantumu bersyukur.”
“Mencintaimu tak bisa biasa saja. Karena jarak terlampau egois, untuk membuat rindu sering menangis.”
“Siapa yang paling tepat menepati janji? Cuma Tuhan, cuma Dia.”
“Aktif dan pasif di dunia ini adalah manusiawi. Maka ketika seseorang menginginkan kamu, dia pun otomatis ingin diinginkan oleh kamu.”
"Jadi, semesta belum membocorkan rahasiaku padamu? Bila kau lihat langit merah tadi senja, anggaplah itu pipiku yang merona; aku jatuh cinta."
“We’re only human. They say we’re born to make mistakes. But remember, human have brain. Doing mistakes again and again shouldn’t be a habit.”
“Kau terlalu indah untuk tinggal dalam kenangan. Baiknya berpindahlah, menuju masa depan.”
"Urusan membuat hatiku merindu, itu memang keahlianmu."
“Pada waktu yang tak pernah kau tahu, cinta datang tiba-tiba; dan ia tak pernah butuh izinmu.”
“Mari saling mendoakan. Agar malaikat pun tersenyum menyadari masih ada dua manusia yang begitu jauh dan tetap saling merindukan.”
“Jatuh cinta lah pada dia yang ketika bersamanya kau senantiasa merasa menjadi dirimu yang seutuhnya. Tak dibuat-dibuat dan tak berpura-pura.”
“Bukan kehendakku untuk jatuh cinta sedalam ini padamu. Maka jangan pula salahkan aku, saat melupamupun aku tak langsung mampu.”
"Dia bilang, cinta diam-diamnya tak pernah percuma. Dia belajar ketulusan, walau hati begitu ingin berteriak lantang."
“Waktumu lebih berharga untuk mengkhawatirkan hal-hal yang layak kau khawatirkan, bukan hal-hal yang bahkan tak nampak di depan penglihatan.”
“Bila kau tak pernah ingin kembali lagi, kumohon jangan pernah datang atau kirim salam. Karena harapan mampu menjadi ladang nyeri yang dalam.”
“Yang sudah menjadi kebiasaan akan sangat sulit untuk dihilangkan. Mencintai kamu, salah satunya.”
“Walau waktu terus melaju, cinta tetap tak boleh kau buru-buru. Terkadang santai adalah hal terbaik untuk menunggu kepastian”
"Kepada Kamu, Jodohku Tuhan menjodohkan kamu dengan seseorang yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan. Jika ternyata dia adalah orang yang sama, itu sungguh bonus luar biasa.
Kepada kamu, Jodohku. Apa kabarmu? Apakah kamu sudah lelah berpetualang? Apakah kamu sudah benar-benar ingin pulang? Karena sungguh aku menunggu, waktu yang ditetapkan Tuhan untuk bertemu denganmu.
Kepada kamu, Jodohku. Apakah kamu sudah berbekal semua hal yang masa depan perlu? Apakah kamu sudah mengemas masa lalu dengan rapih dan hati-hati? Apakah kamu sudah merindu aku, sebagai tulang rusukmu? Pernahkah sekali saja kau menyebutku dalam doamu? Pernahkah kau sekali saja bertanya-tanya, seperti apa perjumpaan pertama kita? Karena aku menyebut namamu selalu, dalam setiap doa-doaku.
Aku ingin kau siap, ketika kita diberi tanggung jawab meniti kehidupan di dunia, untuk bekal ke akhirat.
Kepada kamu, Jodohku. Jika nanti kita sudah bertemu, kumohon jangan pernah melepaskan aku."
"Doa Untuk Kamu yang Biasa Saja
aku meminta pada Tuhan, seorang yang biasa saja, yang dengan rela mampu membakar ego saat Dewinya sedang terluka.
aku meminta pada Tuhan, seorang yang biasa saja, yang mampu menyeka keringatku saat sakit menyiksa raga.
aku meminta pada Tuhan, seorang yang biasa saja, yang di tubuhnya terbaca sikap-sikap lembut namun tetap perkasa.
aku meminta pada Tuhan, seorang yang biasa saja, yang saat letih kurasa, ia akan berkata ‘kamu tak sendiri, aku ada’
aku meminta pada Tuhan, seorang yang biasa saja, yang tidak akan pergi saat kesalahan mungkin terjadi berulang kali, yang mampu mendeskripsikan cinta sebagai wujud pemaafan darinya.
aku meminta pada Tuhan, seorang yg biasa saja, sebagai pelengkap hidupku yang juga tak sempurna, agar bahagia, agar tenang kurasa.
aku meminta pada Tuhan, seorang yang biasa saja, yang juga meminta pada Tuhan untuk seorang yang biasa saja. seperti aku, seperti dia."
"Aku Hanya Menulis Namamu
teruntuk kamu, yang setia berkunjung di setiap mimpiku, aku hanya menulis sajak, yang kutunjukkan untukmu, untuk setiap saat dimana aku merindumu, ataupun mencintamu, dan akupun sungguh tak tahu
aku hanya menulis lirik-lirik lagu, yang mungkin tak laku di pinang melodi manapun, dan semua itu, masih tentang kamu
akupun hanya menulis, rencana hidupku yang mungkin lebih cocok kusebut mimpi, bersama kamu, menatap senja, bermain layang-layang, tanpa harus ada yang sendirian, dan pulang aku juga hanya menulis namamu, dalam benakku, saat kutahu, menyebut namamu tak mampu hilangkan rindu
aku… ah, aku hanya menulis, apapun yang kurasa perlu, untuk hatiku, : untuk meringankannya ketika mengingatmu"
“Ada yang terpaksa harus membuat rasanya begitu saja selesai, padahal ia belum sama sekali memulai.”
“lupakanlah apa-apa yang tak ingin kau kenang, tapi tak perlu memaksa. bukankah otak dan hati senantiasa berperang sejak lama?”
“Kalau Tuhan belum memudahkan kesulitanmu, kecenderungannya adalah : usahamu yang kurang atau sesuatu itu memang bukan ditakdirkan untukmu.”
“Aku begitu berhati-hati ketika mengingatmu. Agar tak ada yang tahu; air mataku sering kali jatuh saat itu.”
“Maukah kau berpindah tempat sebentar saja? Kumohon keluarlah, dari hatiku dan pikiran di kepala.”
“Mungkin Tuhan memang sedang diam. Karena jawaban atas doa-doamu, belum waktunya untuk Dia perlihatkan.”
“Orang-orang yang keras hati, mungkin sedang melindungi sesuatu. Barangkali itu hatinya, yang dulu pernah sangat terluka.”
“Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu tahu isi hati saya. Cukup saja kamu tahu, saya masih mencoba menerka-nerka, isi hati kamu yg sesungguhnya.”
“Kesedihan, mungkin merupakan salah satu isyarat Tuhan; bahwa kita perlu bersyukur atas semua kebahagian (sekecil apapun itu) yang Tuhan berikan.”
“Kita tak pernah benar-benar kehilangan. Kita hanya sedikit saja memberi jeda, pada waktu yang akan memberikan jawaban.”
“Aku tidak ingin tidak mengetahui kabar tentangmu. Aku tidak mampu tidak mengetahui tentang kamu.”
“Kita, terlalu rumit untuk dituliskan pada satu puisi cinta. Maka akan kubiarkan berpuluh-puluh puisi, menceritakan kisah cintanya sendiri.”
“Sadarkah kamu, bahwa perasaan yang akan dengan mudah muncul lagi adalah perasaan yang sebenarnya tak pernah beranjak pergi?”
“Dalam episode hidup bagian ‘jatuh cinta’, terkadang kau tak tahu kau jatuh di mana. You just fall.”
“Jodohmu akan senantiasa didekatkan Tuhan, dalam waktu yang tak kamu sangka-sangka. Dan walaupun sempat berjauhan, percayalah, ia akan dekat.”
“Tanpamu hidupku baik-baik saja. Denganmu ia mendekati sempurna.”
“Dalam diam-diam merindukan, ada doa-doa senantiasa kupanjatkan; dariku untuk keselamatan dan bahagiamu.”
"Jarak mampu menjadi pertanda bahwa cinta mampu begitu kuat atas perpisahan yang sementara."
“Kita memang tak sengaja bertemu, namun mungkin saja, hatiku dan hatimu sudah lebih dahulu tahu.”
“Dia bilang, ‘Kebanyakan rindu adalah ingin bertemu, namun rinduku saat ini cukup mendoakan kamu’. Lalu aku tersenyum, menyembunyikan haruku.”
“Kita akan saling mencari. Lalu nanti, kita akan merasa saling menemukan. Itulah salah satu kekuasaan Tuhan; cinta.”
“Aku mampu tersenyum tiba-tiba ketika membayangkanmu. Apakah aku sudah gila? Tidak, aku hanya sedang jatuh cinta.”
“Bagaimana jika aku sampai mencintaimu dengan terlalu? Dan hatiku tak mampu mencintai yang lain selain kamu?”
“Ada banyak orang yang menilai orang tua dari sebaik apa kelakuan putra-putrinya. Maka,jangan pernah mempermalukan mereka.”
“Bukan yang terbaik untuk satu orang, tidak berarti bukan yang terbaik untuk yg lain. Kamu akan menjadi yang terbaik untuk orang yang tepat.”
“Jika sungguh-sungguh merindu, akan selalu akan ada jalan untuk menuangkan rasa rindu itu. Sekurang-kurangnya adalah mendoakan dia berikut keselamatannya.”
“Ingatan tak bisa dipaksa melupa. Pun cinta, tak bisa dipaksa membenci.”
“Mengeluh atas kesibukan yang luar biasa, boleh saja kalau sesekali. Kalau sampai setiap hari, jangan ya. Itu seperti kamu tidak bersyukur. Karena banyak orang susah payah mencari pekerjaan.”
"Dia : Mengapa kamu baru datang sekarang? Saya : Mungkin karena sekarang adalah waktu yang diizinkan Tuhan. Percakapan dalam kepala. Mungkin kita semua pernah mengalaminya."
“Bukan kehidupan yg penuh drama, tapi para pelaku kehidupan itu sendiri. Kita ini salah satunya. Dan barangkali, dengan lebih sedikit drama, kita akan lebih bahagia.”
“Hanya karena saat ini kita tak saling berbicara, bukan berarti aku tak lagi menyebut namamu dalam setiap doa. Tuhan Maha Tahu segalanya.”
“Rindu tak selalu harus mahal. Dengan hanya bertukar kalimat, kita mampu tersenyum saat saling mendengarkan. ‘Saya rindu kamu’. ‘Saya juga’.”
“Menyedihkan, mengetahui bahwa masih ada orang-orang yang tidak menyukai perdamaian. Sehingga ada saja alasannya untuk memulai perang.”
“Akan menjadi kurang cantik seorang wanita, jika tidak mampu menjaga lisannya.”
“Memutuskan untuk bertahan itu tidak boleh setengah-setengah. Sama seperti memutuskan untuk meninggalkan.”
“Tidak perlu banyak bertanya ‘diakah jodoh saya?’. Sebenarnya sederhana, jika Tuhan mendekatkan kalian, waktu demi waktu, kejadian demi kejadian, dialah jodohmu.”
“Ketika kukatakan ‘aku mencintaimu’, aku melakukannya bukan untukmu. Namun untuk hatiku. Aku percaya, kejujuran lebih melegakan”
“Bagaimana kau akan memulai sesuatu yang baru, apabila yang lama masih saja kau genggam erat dan tak kau lepaskan dengan sepenuhnya?”
“Aku tak tahu yang kulakukan benar atau salah. Namun aku rasa, ketulusan tak pernah keliru menemukan jalannya.”
“Sometimes, you don’t have to hear what I say. Just look into my eyes and hear the unspoken words through your heart.”
“Jangan terlalu khawatir ketika kau merasa kau telah jatuh cinta pada orang yang salah. Ingatlah bahwa; pelajaran yang Tuhan beri melalui suatu proses, tidak pernah sia-sia.”
“Menikah itu bukan hanya tentang saya dan kamu yang menyatu. Ada cinta, Tuhan, dan ibadah. Maka dari itu, ia menyempurnakan separuh agama.”
“Jangan suka meminta untuk hilang ingatan, karena pasti yang ingin kamu lupakan sebenarnya lebih sedikit daripada yang ingin kamu ingat.”
“Saya memilih diam bukan karena tidak ada yang ingin saya sampaikan. Terkadang saya khawatir, kamu belum siap mendengar apa yang seharusnya memang kamu dengarkan.”
“Perpisahan yang pada akhirnya menimbulkan hilangnya percakapan tidak lebih menyedihkan bila dibandingkan dengan perpisahan yang diiringi dengan sepenuhnya melupakan.”
“Tuhan itu Maha Adil, walau manusia sering sekali salah dalam mengartikan ‘keadilan’ itu sendiri.”
“Semua rezeki dan uang yang kamu dapatkan, bukan milikmu sendiri. Jangan lupa untuk berbagi.”
“Cinta mampu membuatmu jatuh begitu dalam, sampai terluka. Dan kau tetap saja tak mau bangun dan malah memilih untuk diam di lubang yang sama.”
“Ketika repot kamu mengeluh, santai juga mengeluh. Kamu butuh apa supaya bisa bersyukur penuh?”
“Ketika mencintaimu, aku akan beristirahat ketika lelah; dan bukan malah langsung menyerah.”
“Jika Tuhan sudah menakdirkan kita hidup berpasangan, mengapa begitu khawatir akan kesendirian? Ah, mungkin, kau hanya memikirkan waktu sekarang.”
"If we can’t be together, I hope you can remember me forever. Because if I can’t be at your side, at least I can live in your heart."
“Musuh utama cinta, yang selalu melekat pada diri kita adalah ego. Semoga egomu dan egoku bersedia mengalah demi masing-masing kita.”
“Sebab cinta bukan ilusi. Itulah mengapa, kau begitu sulit untuk kulupakan tanpa terus menerus kutangisi.”
"Barangkali bahagia itu seperti awan di langit. Kita mampu melihatnya dengan bentuk yang berbeda, tergantung dari sisi mana kita melihatnya."
“Pertama, temu tanpa duga. Kedua, perjuangan setelahnya. Ketiga, proses yang berat dirasa. Seterusnya, semoga kita memang ditakdirkan bersama.”
:)







No comments:
Post a Comment